Dihantam Isu Miring, Bazar Ramadan Bengkalis Tetap Sukses dan Hidupkan Ekonomi Rakyat

BENGKALIS – Bazar Ramadan yang digelar oleh kelompok “Bersama Bermasa” di Jalan Sudirman, tepatnya di pintu masuk Pelabuhan BSL Bengkalis, resmi berakhir setelah berlangsung selama 30 hari penuh. Hingga hari terakhir, kegiatan ini tetap berjalan lancar, aman, dan tertib, sekaligus menjadi pusat aktivitas masyarakat selama bulan suci (20/03/2026).

Sejak hari pertama, bazar ini bukan sekadar tempat berburu takjil dan kuliner berbuka puasa. Lebih dari itu, denyut ekonomi masyarakat terasa hidup. Puluhan pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga pekerja pendukung seperti juru parkir, petugas kebersihan, dan penjaga malam, memperoleh penghasilan dari perputaran ekonomi yang tercipta setiap harinya.

Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, kehadiran bazar ini justru menjadi ruang harapan. Masyarakat dapat menikmati sajian berbuka dengan harga terjangkau, sementara para pelaku usaha kecil mendapatkan panggung untuk bertahan dan berkembang.

Namun di balik keberhasilan tersebut, bazar ini tak luput dari serangan isu miring. Sejumlah pihak mencoba menggiring opini dengan tudingan tak berdasar, mulai dari persoalan perizinan hingga isu pungutan liar. Ironisnya, narasi tersebut lebih ramai disuarakan dibanding upaya melihat langsung realita di lapangan.

Faktanya, selama 30 hari pelaksanaan, bazar tetap berjalan kondusif tanpa gangguan berarti. Aktivitas ekonomi terus bergerak, masyarakat tetap datang, dan manfaat nyata dirasakan luas. Hal ini seakan menjadi jawaban diam atas berbagai tudingan yang tak pernah benar-benar dibuktikan.

Sekretaris “Bersama Bermasa”, Faisal Rabbyn Lessnusa yang akrab disapa Mbah Robby, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Alhamdulillah, selama 30 hari pelaksanaan, bazar Ramadan ini berjalan dengan lancar, aman, dan kondusif. Ini semua berkat kerja sama panitia, dukungan masyarakat, serta para pelaku UMKM,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari niat menggerakkan ekonomi masyarakat, bukan seperti narasi yang dibangun oleh pihak-pihak tertentu.

“Kalau memang ada yang menilai negatif, silakan dibuktikan dengan data, bukan sekadar opini. Karena yang kami lihat di lapangan, masyarakat terbantu, pedagang tersenyum, dan roda ekonomi berputar,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mbah Robby menyindir pihak-pihak yang gemar melempar isu tanpa kontribusi nyata.

“Kadang yang paling keras bersuara justru yang tidak pernah hadir melihat langsung. Bahkan tidak ikut berbuat apa-apa, tapi sibuk menilai. Sementara di sini, kami bekerja 30 hari penuh, dari siang sampai malam, untuk masyarakat,” katanya.
Ia mengajak semua pihak untuk lebih bijak dalam menyikapi sebuah kegiatan yang jelas memberikan dampak positif.

“Kritik itu penting, tapi harus membangun. Jangan sampai energi habis hanya untuk menyebar prasangka. Kalau tidak bisa membantu, setidaknya jangan menghambat,” pungkasnya.

Dengan berakhirnya bazar Ramadan tahun ini, “Bersama Bermasa” berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar di masa mendatang dengan konsep yang lebih matang. Satu hal yang pasti, keberhasilan ini telah membuktikan bahwa kerja nyata jauh lebih berarti daripada sekadar opini tanpa dasar.(ep/er)

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait